Selamat Datang (di) Krisis Iklim!

by Editor

Kita semua ingin menua bahagia.

Kalau lagi dihimpit deadline dan tagihan bulanan, kadang oase itu sesederhana memejamkan mata dan membayangkan rencana indah di masa depan, berharap hidup lebih indah dan sederhana. Pengen punya bisnis kuliner yang cabangnya di berbagai kota. Pengen punya rumah di pinggir pantai biar bisa staycation. Pengen reunian dengan teman-teman di masa muda sambil karaoke lagu-lagu nostalgia. Ingin jalan-jalan keliling Eropa sambil foto-foto cantik. Bahkan sesederhana ingin menghabiskan hari-hari dengan rebahan sambil main sama kucing.

Bagi yang minim imajinasi, baliho iklan asuransi di perempatan jalan siap memberi gambaran masa pensiun yang “ideal”. Pasti pernah kebayang iklan kayak gitu kan? Orangtua menatap anak-cucunya bermain di halaman dengan pandangan sendu yang bahagia. Kurang lebih beginilah kita semua menatap masa depan: optimis. Asal kuat bersusah-susah di masa muda, pasti kelak bisa terjamin dan sejahtera. 

Apakah sesederhana itu? Oh belum tentu.

Seberapa mungkin masa depan idaman kita akan terwujud? Ini jawabannya: jika kamu, dan kita semua, masih cuek dengan krisis iklim, kemungkinannya kecil. Sangat kecil. Hampir mustahil.

Mau punya bisnis kuliner sukses? Yakin pasokan bahan bakunya cukup beberapa dekade kelak? Ilmuwan memberikan prediksi bahwa hasil panen beras dan jagung dan banyak komoditas utama di dunia akan menurun drastis karena di pertengahan abad nanti lahan tidak lagi kondusif untuk ditanami, air bersih untuk irigasi langka, dan serangan hama baru berpotensi muncul karena biodiversitas yang tidak seimbang.

Sudah siap KPR rumah minimalis dengan kebun cantik di belakangnya? Coba cek dulu lokasi rumahnya, apa termasuk di daerah yang diprediksi NASA akan tenggelam beberapa dekade lagi?

Ingin jalan-jalan dengan pasangan keliling Eropa? Eits, naik pesawat dari mana emangnya? Bandara Soekarno Hatta bisa jadi sudah dibawah permukaan laut pada tahun 2030, seperti prediksi dalam Laporan Climate Change Vulnerability Index yang dirilis Maplecroft. Bertahun-tahun nabung biar bisa liburan ke Hawai’i dan Maldives? Sorry to break it to you, pulau-pulau dataran rendah seperti Hawaii dan Maldives sudah tidak mungkin lagi ditinggali beberapa dekade lagi.

Semua hal diatas adalah bagian dari krisis iklim. Iya, itu nama yang tepat. Krisis iklim.

Apa sih sebenarnya krisis iklim itu? Bedanya apa dengan perubahan iklim? Jawabannya: keduanya sama. Krisis iklim adalah perubahan iklim, cuma karena keadaanya udah genting jadi dibilang krisis. Ilmuwan iklim di dunia mulai mendesak penggunaan kata ‘krisis’ dan ‘darurat’ untuk menggantikan ‘perubahan’, karena perubahan mengesankan pergantian kondisi yang berlangsung perlahan dan tidak darurat. Padahal kenyataannya, situasi sudah sangat genting.

Krisis iklim juga sama dengan pemanasan global. Iya, pemanasan global yang belasan tahun lalu kita pelajari waktu pelajaran geografi di sekolah itu! Kenapa sekarang dipopulerkan dengan istilah krisis iklim? Karena para ilmuwan dan aktivis gemes luar biasa, dari jaman generasi kita masih sekolah sampai sekarang sudah dewasa, pemanasan global bukannya membaik tapi makin parah. Tidak ada aksi berarti dari pemerintah, animo publik juga rendah. Mereka jadi mikir, jangan-jangan karena kita menyebutnya dengan ‘pemanasan global’, jadi ini semua terasa jauh dan gak berefek dengan iklim yang kita rasakan. Jadilah istilah ‘perubahan iklim’ dan ‘krisis iklim’ menjadi populer saat ini.

Sekarang pertanyaannya, karena ini ‘krisis’ haruskah kita panik? Kenapa aku harus panik kalau orang-orang di sekitarku santai?

Ada tiga kemungkinan alasan mengapa orang-orang di sekitarmu tidak panik: 1) Memang tidak perlu panik, karena semua hal baik-baik saja. Krisis iklim itu hoax. Everything’s gonna be okay. 2) Mungkin ada sebagian orang di sekitar kamu yang panik, tapi kepanikan mereka tertimbun isu lain, baik disengaja maupun tidak. 3) Sebenarnya orang-orang di sekitarmu, termasuk kamu sendiri, diam-diam panik. Tapi ya itu masalahnya, paniknya diam-diam dan dipendam sendiri.

Jadi  sebenarnya kita perlu panik gak sih?

Pertama, jangan-jangan memang gak perlu panik? Gimana kalau krisis iklim itu beneran hoaks?

Kalau memang hoaks, sesungguhnya kita semua perlu memanjatkan syukur. Dituduh hoaks jauh lebih baik dibanding harus menghadapi bencana, kelaparan, dan ‘penggusuran’ alam. Sayangnya, ini semua bukan hoaks. Kesepakatan ilmiah diantara para ilmuwan bahwa perubahan iklim itu nyata telah mencapai angka 97% menurut NASA, bahkan laporan terbaru menyebutkan angka 99%. Mereka bukan lagi ngedebatin ini hoaks apa bukan, tapi separah apa kondisinya sekarang dan berapa lama waktu yang kita punya!

Kedua, ada sebagian kecil yang panik, tapi sebagian besar enggak. Mungkin sibuk oleh isu-isu lain atau kadang sengaja dialihkan oleh beberapa kelompok tertentu. Siapa sih kelompok-kelompok ini? Ilmuwan dan aktivis iklim punya nama untuk mereka: climate deniers. Bahasa kekiniannya: orang-orang halu. Orang-orang yang tahu tapi memilih untuk menutupi. Kenapa? Karena usaha untuk mencegah krisis iklim berarti akan mengancam usaha mereka dalam mengeruk keuntungan ekonomi lebih banyak.

Banyak hal yang kelompok ini lakukan, mulai dari kampanye bahwa perubahan iklim itu hoaks, kampanye ‘manfaat’ dari adanya perubahan iklim, bayar akademisi untuk merilis jurnal ilmiah ‘bantahan’ terhadap krisis iklim, nyogok media untuk tidak menayangkan berita-berita meresahkan tentang krisis iklim, sampai membujuk NASA untuk hapus pernyataan 97% konsensus ilmiah yang kita bahas diatas.

Ketiga, mungkin banyak yang panik, tapi semuanya diam. Dipendam sendiri. Kalau diomongin, takutnya semua ini jadi terasa nyata.

Masalahnya, ini semua memang nyata. Climate crisis is here already.

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti. Sebaliknya, tulisan ini mau bilang: masih ada waktu, masih banyak yang bisa dilakukan. Ilmuwan dan aktivis iklim percaya harapan itu masih ada. Masalah gak akan hilang cuma karena kita pura-pura masalah itu gak ada. Nunda pembicaraan itu hanya nunda aksi. The clock is ticking. Kita berpacu dengan waktu.

Buat yang suka Harry Potter, pasti tahu dong seberapa denial-nya orang-orang di Kementrian Sihir waktu dengar kalau Voldemort bangkit lagi. Dumbledore, penyihir paling sakti disana, sampai dibilang gila lho! Dunia sihir dipaksa berjalan kayak biasa, walaupun banyak yang dalam hati khawatir. Murid Hogwarts dilarang belajar pertahanan terhadap ilmu hitam karena dianggap gak perlu. Dunia sihir ini halu nya maksimal. Mungkin seperti itulah keadaan dunia sekarang. Ribuan ilmuwan ternama dituduh tidak kompeten. Kita semua pura-pura baik-baik saja.

    

Paralel antara Harry Potter dan dunia nyata: tudingan konspirasi

Tapi anak muda dunia sihir gak tinggal diam. Sekelompok murid Hogwarts diam-diam belajar pertahanan diri, bahkan duel langsung dengan kelompok Pelahap Maut di Kementrian Sihir. Mereka tahu bahwa menerima fakta dan mempersiapkan diri untuk menghadapi yang terburuk adalah jalan yang terbaik. Takut? Pasti. Tapi jika dilakukan bersama-sama gak akan semenakutkan itu.

Gak cuma di dunia sihir, anak-anak muda di dunia muggle juga dengan berani menerima kenyataan dan angkat suara. Melalui aktivisme iklim yang digawangi Greta Thunberg, mereka bolos sekolah, menuntut orang-orang dewasa yang punya kuasa untuk melakukan aksi nyata. Hasilnya menakjubkan. Lebih dari 4 juta orang di lebih dari 163 negara ikut turun ke jalan, menyuarakan kekhawatiran dan rasa frustrasi mereka.

Apa kamu sekarang udah sedikit panik? Lalu setelah panik apa? Kamu harus mulai dari mana?

Mulai dari sini, sekarang. Tenang, gak ada yang maksa kamu untuk langsung turun ke jalan atau berubah 180 derajat menuju gaya hidup ramah lingkungan. Bagus kalau bisa, kalau belum? Gak apa-apa. Pelan-pelan, mulai dari mencari tahu dan memahami.

Blog ini dibuat untuk menjembatani anak muda, seperti kamu dan kita semua, dengan informasi diluar sana yang mungkin rumit, berbahasa alien dan terselip diantara jurnal-jurnal akademis. Blog ini ada untuk kita belajar bersama, dan bertindak bersama.

Jadi mari stop halu, mulai cari tahu dan berbuat sesuatu, biar masa tua bisa seindah iklan asuransi.

 

 

 

Sumber gambar

https://www.deviantart.com/rob234111/art/Dumbledore-Daft-or-Dangerous-298176805

https://secure.avaaz.org/campaign/en/fake_news_killing_the_climate_51/

https://www.pinterest.co.uk/pin/362962051189149541/

http://content.time.com/time/covers/0,16641,20060403,00.html

https://kumparan.com/@millennial/keseruan-aksi-jedauntukiklim-demi-masa-depan-bumi-yang-lebih-baik-1ruFAl4AC5o

Share This