“Jadi Salah Gue? Salah Pemerintah Gue?” Rangga dan Cinta Ngobrolin Dilema Krisis Iklim

by Editor

 

Cinta bingung banget. Pacarnya, Rangga, udah setahun terakhir terobsesi sesuatu. Bukan, bukan mobile legend. Rangga terobsesi…..krisis iklim.

Rangga telat nge-date minggu lalu karena dia kekeuh naik busway ke kafe. Rangga gak mau punya kendaraan pribadi, tapi gamau juga pakai jasa G*car.

Katanya, “Cinta, kamu tau gak emisi per kapita orang Jakarta itu tinggi di transportasi kendaraan pribadi? Aku gak mau ya berkontribusi terhadap itu semua.”

Cinta juga paling males kalo harus ke kontrakan Rangga. Rangga gak punya AC. Listriknya tinggi banget, Cinta! Itu semua bahan bakar fosil. Ya ngerti sih, tapi Cinta udah mandi keringet rasanya di situ.

Tau nggak yang paling ribet? Rangga nabung di bank daerah yang ATM nya jaraaaaaang banget. Alesannya: bank-bank besar itu semua investasi di bahan bakar fosil, Cinta, aku gak mau duitku dipake buat memperparah perubahan iklim.

Yang paling bikin Cinta heran ini, Rangga jadi bimbang punya anak. Mereka udah pacaran 10 tahun, lanjut ke jenjang selanjutnya udah pasti ada di pikiran mereka. Dulu sih seru ngomongin mau punya anak berapa, mau dikasih nama apa. Sekarang, Rangga jadi skeptis. Aku gak tega lah, masa anak kita nanti tinggal di dunia yang krisis air, rawan bencana, wabah penyakit dan penuh konflik?

Menurut Cinta ada yang lebih malesin dari punya pacar cuek, yaitu….punya pacar SJW.

“Mana tuh pacar SJW lo?” Malesin banget kalo ditanyain temen kayak gini kan?

 

 

Tapi kemarin, Cinta baru bisa merenungkan ini semua setelah keluarganya harus ngungsi karena rumah mereka kelelep air. Airnya cepet banget naik, Cinta sampe gak sempet nyelametin barang-barang dia di kamar lantai satu.

“Itu baru barang kamu aja Cinta, masih ada gantinya. Gimana dengan orang-orang yang rumahnya gak berlantai dua? Ini semua bakal jadi lebih sering lagi. Ini tuh yang bakal dialamin sama anak-anak kita nanti.” Kata Rangga lewat telpon. Cinta gondok banget. Kata-kata dia ada benernya juga, dan sejujurnya setelah ngalamin sendiri Cinta jadi lebih merenungkan krisis iklim. Tapi ini bukan waktu yang tepat buat jadi SJW, Rangga.

“Jadi ini semua salah gue? Salah pemerintah gue?”

Di ujung yang lain, Rangga diem. Ini Cinta pasti lagi marah.

“Dengerin ya Ngga, aku tuh bukannya gak peduli. Aku peduli, tapi kalo aku mesti hidup kayak kamu buat mencegah krisis iklim, aku gak sanggup. Aku gak siap.”

Ya emang Cinta gak pernah nanya ke Rangga sih sebenarnya apa efek semua gaya hidup SJW Rangga itu terhadap krisis iklim. Cinta gak terlalu paham, tapi menghindar dari diskusi itu. Sebenarnya dalam hati Cinta ngerasa kalo Rangga nganggep dia ignorant, jadi daripada dia kelihatan tambah ignorant, mending gausah dibahas. Rangga nya juga toh gak pernah cerita.

“Emang ada hubungannya kamu gak nyalain AC sama banjir? Ini aku nanya ya, Ngga, bukan lagi nyinyir.”

“Ada. Aku nyalain AC, lama-lama itu berkontribusi terhadap emisi global. Ditambah emisi semua orang lainnya di bumi ini, jadilah perubahan iklim. Karena udara yang memanas secara global, beberapa daerah bakal kena curah hujan ekstrem. Kebetulan yang kena ya kita di sini. Jadi ga salah dong aku bilang ada hubungannya?”

“Sekarang aku tanya, emisi paling tinggi di dunia itu berasal dari mana? Gara-gara milyaran orang di dunia nyalain AC?”

“Enggak sih. 71% emisi global itu cuma dari 100 perusahaan bahan bakar fosil di dunia.”

“Ya kenapa gak perusahaan-perusahaan itu aja yang ditutup?”

“Gak segampang itu Cinta. Banyak perusahaan-perusahaan itu perusahaan negara. Menurut sistem ekonomi dan politik kita sekarang, mereka gak bisa tutup kecuali bangkrut. Atau dipaksa tutup pemerintah di negara dimana perusahaan itu berdiri.”

“Ya suruh aja pemerintah buat tutup.”
Rangga senyum. Enak bener nih Cinta ngomongnya.

“Gimana caranya, orang beberapa perusahaan itu sendiri perusahaan minyak nasional? P*rtamina, A*aro, B*rau Coal, B*kit As*m, dan In**ka aja masuk daftar itu. Pemerintah negara-negara itu bergantung dari pendapatan perusahaan-perusahaan itu.”

“Emang energi lain gak bisa menguntungkan? Ganti aja lah pake sumber energi lain.”

“Idealnya sih gitu. Pendapatan negara saat ini buat apa kalau di masa depan rakyatnya menderita karena krisis iklim? Penanggulangan bencana, penyakit, krisis pangan, emang negara gak butuh duit buat itu semua? Kerugian di masa depan karena krisis iklim itu gede banget. Tapi tau sendiri lah, emangnya orang-orang pemerintah kita gak punya kepentingan di perusahan-perusahaan itu? Mana mau mereka lepas gitu aja.”

 

Kerugian Indonesia karena dampak krisis iklim diperkirakan mencapai 85% GDP per kapita. Sumber: Global Non-Linear Effect of Temperature on Economic Production.

 

“Oke jadi kalau pemerintah gak bisa paksa tutup perusahaan ini, kita bikin bangkrut aja mereka. Gausah dibeli lagi barang-barangnya.”

“Yah kamu aja masih beli bensin, Cinta. Dan itu listrik kamu, emangnya gak pake batu bara?”

“Ya udah, habis ini aku bakal pasang solar panel deh biar listrik aku gak pake batubara dan gas lagi. Aku juga mau nabung buat beli mobil listrik biar gausah beli bensin lagi.”

“Oke, itu bagus, tapi sayangnya gak semua orang punya uang kayak kamu. Gimana dengan orang-orang yang gak punya pilihan selain beli bensin buat bertahan hidup? Gosip harga bensin mau naik aja orang-orang udah kebakaran jenggot. Tarif listrik mau naik aja orang-orang langsung ribut. Gak bisa dibantah kalo batubara dan minyak itu emang yang paling murah.”

Cinta sekarang yang bingung, ni orang kenapa jadi belain orang-orang yang make bahan bakar fosil? “Ya kenapa juga yang dibikin murah itu bensin dan batubara? Subsidi kek energi terbarukan biar jadi murah.”

“Nah itu dia! Kenapa coba menurut kamu pemerintah kita gak kayak gitu?”

“Karena…orang-orang di pemerintahan banyak kepentingan disana?” Semakin dipikir Cinta jadi ngerasa ini semua bikin frustasi. Ini perusahan-perusahaan udah gak bisa ditutup, gak bisa dibikin bangkrut juga.

Rangga gak jawab. Mereka berdua sama-sama tahu jawabannya.

“Jadi krisis iklim salah pemerintah nih?”

“Salah kita juga. Udah tahu pemerintah kita kayak gitu, kok kita diem aja? Setiap pemilu kok kita gak pernah nanya apa rencana pemerintah buat menanggulangi krisis iklim? Kalo pemilu yang diomongin masih itu ituuuuu aja. Gak kelar-kelar.”

Cinta terdiam, Rangga lanjut ngegas.

“Kamu tau gak emisi terbesar di Indonesia bahkan bukan konsumsi energi tapi kebakaran hutan dan lahan gambut? Setiap hektar gambut tropis yang dikeringkan untuk perkebunan melepaskan 55 metrik ton CO2 setiap tahun, itu setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin. Iya sih pemerintah melarang pembukaan lahan baru untuk perkebunan sawit. Tapi kenyataannya di lapangan gimana? Baru-baru ini ada investigasi rencana pembukaan lahan di Papua untuk perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia. Luasnya gak tanggung-tanggung, 280.000 hektar! Kalo lahan ini dibakar, emisinya bisa nyamain emisi seluruh penduduk Belgia dalam setahun.”

 

 

Penggunaan lahan dan kebakaran hutan masih mendominasi emisi dari Indonesia. Namun, emisi dari energi diperkirakan terus meningkat hingga 58% emisi total Indonesia di tahun 2030. Sumber: Our World in Data

“Kamu bener Rangga, tapi ada satu hal yang kamu salah. Kamu gak bisa nyalahin kita semua juga karena gak nuntut pemerintah dan perusahaan. Banyak yang gak tau kita ada di sistem yang kayak gini. Kamu tahu kenapa? Karena orang-orang kayak kamu yang tahu hal ini malah diem aja.”

 

Rangga bungkam. Dia emang jarang ngomongin ini ke orang-orang. Antara males sama capek. Pernah Rangga nyoba ngejelasin ini ke temen-temennya, tapi mereka gak tertarik.

Rangga gak bisa nyalahin mereka juga, temen-temennya ini udah capek dihantam kesibukan manusia perkotaan sehari-hari. Di kepala mereka gak ada space buat mikirin masa depan karena, well, bertahan hidup hari ini aja susah. Mana ada waktu mikirin kebijakan pemerintah?

Rangga terdiam. Cinta pun terdiam.

Sayup-sayup dari televisi di warung makan tempat Rangga duduk sekarang terdengar berita. Pemerintah baru saja meresmikan PLTU baru.

Share This